| Noopolitik : Menang Tanpa Menusuk |
|
|
|
| Written by Budiono Kartohadiprodjo, Ir | |
| Monday, 09 November 2009 | |
Loncatan kemajuan teknologi informasi telah menggeser bentuk interaksi tradisional, dari single point to single point ke bentuk multipoints to multipoints dengan kecepatan transmisi yang luar biasa. Manusia satu dengan lainnya menyatu, dihimpun oleh arus informasi yang sama, lalu mementuk dunia baru yang bersifat maya. Itulah cyberspace. Kemudahan akses informasi dan komunikasi dunia maya agaknya berpengaruh kuat pada urusan diplomasi, sosial, bisnis, dan militer. Tren yang kemudian muncul adalah konsep keunggulan informasi (information superiority) pada negara maju menjadi tulang punggung dan senjata strategis untuk meraih kepentingan nasionalnya. Ini berlaku pada suasana damai maupun perang, untuk urusan ekonomi-kesejahteraan maupun keamanan. Kesadaran baru bahwa informasi punya kekuatan tak terduga, dan sangat strategis, karena sifat pemanfaatannya yang multisektor, kini telah melahirkan cabang keilmuan yang dikenal dengan strategi informasi, information strategy.
Dalam pertumbuhannya, strategi informasi membelah ke arah dua kutub. Yang pertama, esensinya teknologi, dan fokusnya bergulat dengan keandalan dan keunggulan infrastruktur. Kutub kedua esensinya politik dan dunia ide-ide. Fokusnya bergulat dengan cara-cara meramu konten informasi dan cara penyebarannya. Tujuannya, memikat, menarik perhatian, lalu membentuk persepsi pada pihak lain agar mau menerima ide dan nilai-nilai baru sesuai dengan skenario yang dirancang. Dengan begitu, mereka akan mengikuti kehendak sang penganjur tanpa unsur paksaan. Kutub kedua ini kemudian dikenal dengan nama noopolitik, berasal dari bahasa Yunani noos, pikiran. Konsep ini merupakan kelanjutan ramalan Pierre Teilhard de Chardin, seorang teolog Jesuit Prancis di abad ke-20, yang pada 1925 menujumkan bahwa kehidupan manusia akan tumbuh pada taraf kehidupan yang tinggi sebagai hasil interaksi intelektual secara global, interaksi sosial dan energi spiritual. Oleh Teilhard, interaksi ini disebut “noosphare”, yang bisa merujuk pada pandangan bahwa kehidupan manusia akan diperankan oleh kekuatan akal, pola pergaulan dan kekuatan spiritualnya. Kutub maya noopolitik itu kini menjadi statecraft, kendaraan politik negara, dalam bersinggungan dengan negara lain, terkait dengan kepentingan nasionalnya. Sifatnya sangat bertolak belakang dengan realpolitik, yaitu tata cara yang lazim dalam melaksanakan politik luar negeri yang penuh dengan kalkulasi kekuatan dalam wilayah geografis. Noopolitik lebih merupakan cara berpolitik luar negeri pada psychic terrain, wilayah spiritual, kejiwaan, dari noosphare dengan menggunakan ide-ide, nilainilai, hukum, dan etika yang berlaku secara global untuk mencapai kepentingan nasionalnya.Ada perbedaan yang menonjol antara realpolitik dan noopolitik. Realpolitik bekerja melalui hard power, yaitu orang, senjata, peluru kendali, kapal perang. Sedangkan noopolitik menekankan pada soft power, yaitu penekanan pada kemampuan memikat, bukan memaksa. Reapolitik menuntut apa keinginan kita menjadi kebenaran pihak lain, sedangkan noopolitik lebih fokus agar kebenaran yang ingin kita capai juga menjadi keinginan pihak lain. Realpolitik cenderung berperilaku amoral, sedangkan noopolitik berprinsip bahwa kemenangan hanya bisa diraih dengan saling berbagi. Pelaku noopolitik bisa negara, militer, atau lembaga swadaya masyarakat (LSM). Pengalaman pun mengatakan, memobilisasi LSM yang didukung negara akan lebih efektif. Terutama untuk menutupi kepentingan Negara sponsor yang mungkin bisa menimbulkan ketegangan bila kedok operasinya terkuak. Sekadar contoh, aksiaksi Greenpeace dalam menentang percobaan nuklir Prancis di Pasifik Selatan, yang sulit untuk tidak disebut disponsori dan didukung operasinya oleh salah satu negara adikuasa. Gerakan yang hangat diembuskan pada saat ini adalah upaya penegakan hak asasi manusia dan reformasi politik di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam operasi ini, doktrin noopolitik “peace trough knowledge” menggantikan doktrin lama “peace trough strenght”. Gerakan reformasi politik melalui doktrin “peace trough knowledge” yang diembuskan negara maju, untuk mencapai grand strategy-nya, sudah kita rasakan getaran dan dampaknya. Tujuannya, apa lagi kalau bukan single ideology dan single currency di bawah pimpinannya. Di situ perlu ada proyek perubahan asas kekeluargaan oleh asas individualisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan noopolitik, bangsa ini telah terbius. Ideologi baru yang menyatakan bahwa “semua manusia diciptakan sama, dan mereka dianugerahi oleh Pencipta mereka dengan hak-hak tertentu, bahwa di antara hak-hak tersebut adalah kehidupan, kebebasan, dan mencari kebahagiaan’’ seolah menjadi kebenaran yang kita cari. Kita terbawa pada alam ide bahwa manusia diciptakan “tunggal” dan “sama”, dan prinsip itu tibatiba menjadi keyakinan kita untuk meraih kebahagiaan. Pada saat itu pula kita melupakan konsep lama yang kita yakini sebelumnya bahwa segala sesuatu diciptakan berpasangan secara seimbang. Konsep “hidup berpasangan” yang “pernah” diyakini bangsa ini tampak sejalan dengan ajaran di kitab suci Al-Quran, surat ke-51 Adz-Dzariyaat ayat 49. Di sana difirmankan, ‘’Dan Kami ciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan supaya kamu mendapat pengajaran.” Hal serupa dijelaskan dalam Kitab Kejadian 1 ayat 27: ”Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar- Nya, menurut gambar Allah diciptakannya dia laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Dengan paham manusia diciptakan “sama” dan dianugerahi oleh Pencipta mereka hak-hak tertentu, maka dalam pergaulan hidupnya, masing-masing individu memiliki kekuasaan yang sama tinggi. Kedudukan dan kekuasaan yang sama tinggi itu menjadikannya masingmasing bebas. Karena itu, unit terkecil masyarakat dengan paham ini adalah individu. Hubungan tenggang rasa di antara mereka tidak dikenal. Mereka hanya mengenal “kontrak atau perjanjian”, yaitu ketentuan yang mengatur pembagian kekuasaan di antara mereka dan disusun atas dasar kekuatan akal semata. Dengan paham semacam ini, yang mengabaikan unsur rasa dalam pergaulan hidupnya, bisa dimengerti bahwa unsur kekuatan dan kekuasaan menjadi hal yang paling mempengaruhi dalam kehidupan keseharian. Berbeda dengan konsep yang mengakui bahwa manusia diciptakan berpasangan. Ada unsur tenggang rasa di antara mereka. Ada keterpanggilan untuk mempertimbangkan akibat dari perbuatannya atas sesamanya. Kebebasannya selalu dalam rangka kebahagiaan kesatuan kelompoknya, dan kebebasan kelompoknya selalu dalam rangka kebahagiaan individu anggotanya. Kebebasan dalam persatuan, persatuan dalam kebebasan. Dalam masyarakat dengan paham ini, unit terkecilnya adalah keluarga. ![]() Strategi noopolitik telah berhasil menggeser nilai paham kekeluargaan itu dengan nilai paham individualisme dalam kehidupan bangsa ini. Kita sendiri mungkin tak benar-benar menyadarinya. Mereka menang tanpa menusuk. Noopolitik telah menciptakan kondisi sedemikian rupa, sehingga setiap orang bisa memberdayakan segala kekuasaan dan kekuatan yang melekat pada dirinya untuk kepentingannya, seraya mengabaikan kepentingan sesama dan masa depan bangsanya. Ke depan, kondisi ini sangat membahayakan persatuan bangsa. Sudah saatnya pemerintah mengatur tentang sepak terjang LSM asing ataupun lokal di dalam negeri, mengingat dalam strategi noopolitik, peran yang dilakukan LSM sangat penting dan strategis. Sebagai perpanjangan tangan negara donor, tidak mustahil ada titipan atau agenda yang dimasukkan secara tersembunyi dalam aktivitas LSM yang tanpa disadari oleh mereka sendiri. Bukankah asas profitabilitas dalam masyarakat individualis adalah dogma yang harus dipatuhi? Hal itu perlu mendapat perhatian lebih serius dari semua pihak untuk mengantisipasi eselamatan bangsa ini. Bukankah kita cinta perdamaian tapi lebih cinta kemerdekaan? Budiono K (Pengamat Geopolitik) |
|
| Last Updated ( Monday, 09 November 2009 ) |
| < Prev | Next > |
|---|
Anggrek terbaik dunia jenis anggrek bulan lokal (Phalaenopsis amabilis) dari Kabupaten Tanah Laut kini tidak bisa ditemukan lagi di hutan Kabupaten Tanah Laut maupun di kawasan hutan Kalimantan Selatan lainnya.
Banteng (Bos javanicus) sebagai salah satu satwa langka penghuni Taman Nasional Alas Purwo dan Baluran di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, keberadaannya kian terancam punah, baik akibat aksi perburuan liar maupun keganasan hewan predator.
Satu ledakan kuat menghantam kompleks kementerian pertahanan yang tiga pekan lalu menjadi lokasi serangan bom bunuh diri yang menewaskan belasan calon tentara, kata koresponden AFP.